Kepada jama'ah Al-Ikhlas yang ingin berpartisipasi dalam Acara Bazar Murah Festival Muharram 1435H tanggal 16 dan 17 Nopember 2013 dapat mendaftar di BMT Al-Ikhlas

Categorized | Kegiatan

Menelusuri Sejarah Masjid Al-Ikhlas

Posted on 08 May 2013 by Masjid

 

Masjid Al-Ikhlas adalah masjid di lingkungan perumahan Vila Dago Tol, Serua Ciputat Tangerang Selatan, Banten. Bangunan dengan luas 26X26 meter persegi itu berdiri persis di sisi jalan utama, sekitar 500 meter dari pintu gerbang Vila Dago Tol. Diberi nama Al-Ikhlas, karena masjid ini dibangun oleh sebuah tekad yang kuat dan ketulusan yang tinggi dari umat Islam Vila Dago Tol. Dengan menjunjung tinggi semangat persaudaraan atau Ukhuwah Islamiah sebagai prinsip dasarnya,  masjid Al-Ikhlas kokoh berdiri di atas semua golongan dalam Islam. Kegiatan keagamaan apapun bentuknya terbuka di sini. Ini tercermin dari bentuk dan desain masjid yang terbuka tanpa penyekat. Tak ada tembok atau kaca yang membatasi pandangan dari halaman masjid hinga mimbar imam.”Masjid ini memang dibangun dengan dasar ukhuwah yang kuat , tidak eksklusif. Umat Islam dari manapun asalnya, apapun alirannya kami terima di sini,”demikian terang Jonathan Alkatiri, Ketua Bidang 5 Humas dan TI masjid Al-Ikhlas VDT.

Dengan semangat keterbukaan dan ukhuwah itulah, dari hari kehari Masjid Al-Ikhlas semakin eksis di mata umat Islam di Vila Dago Tol. Masjid ini tidak pernah sepi dari jamaah dan aktifitas keagamannya selalu padat. Semua aliran dalam Islam diterima dengan baik. yang salat subuhnya pakai  doa qunut, silahkan. Yang nggak pakai qunut juga monggo . Salat tarawih 23 rakaat, silahkan, yang 11 rakaat tak masalah. Mau salatnya pakai celana ngatung atau celana komprang tidak ada yang keberatan. ”Ya pokoknya semuanya harus mengarah pada upaya menjaga kuatnya ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan umat. Jangan pernah mengarahkan spirit masjid kepada aliran tertentu dan jangan pernah merasa paling benar sendiri, “kata Jonathan menegaskan. Dengan ungkapan lain, bahwa kebenaran hanya milik Allah SWT. Manusia tidak punya hak menilai salah-benarnya sebuah aliran pemikiran dalam Islam. Yang salat subuh pakai qunut punya dalilnya, yang tidak pakai qunut juga punya dalil masing-masing. Jadi yang benar yang mana ? Biar Allah saja yang menilai. Roja’a ila Allah, penilaian benar-salahnya kita kembalikan kepada Allah.

Informasi dari Dua Tokoh

Masjid al-Ikhlas dibangun pertengahan tahun 2003, namun anehnya, tak ada catatan apapun mengenai sejarah masjid ini. Seluruh pengurus masjid, rata-rata tahu ceritanya. Tapi tidak ada catatan yang menjadi bahan rujukan. Padahal perkembangan masjid ini cukup pesat.

Hanya dalam waktu 10 tahun, sudah memiliki Baitul Mal Wat-Tamwil (BMT) atau Balai Usaha Mandiri Terpadu, lengkap dengan bangunan kantornya. Sebuah unit usaha produktif dan investasi. Meski bukan lembaga sosial, tapi dapat dimanfaatkan untuk mengefektifkan penggunaan zakat, infaq dan shodaqoh bagi kesejahteraan umat.

 

Selain BMT, masjid ini juga memiliki gedung Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dengan segudang kegiatan pendalaman Al-Quran dan sudah meluluskan ratusan santrinya. Kemudian diujung jalan VDT, berdiri di sisi tikungan jalan, sebuah bangunan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) atas prakarsa DKM Al-Ikhlas dengan mutu yang sudah terakreditasi. Soal dana ? jangan Tanya. Masjid semungil Al-Ikhlas, pernah membubuhkan data laporan keuangan hingga setengah milyar rupiah. Laporan terakhir Februari 2013 saja, saldo keuangan masjid mencapai  Rp 274.668.625 ( lebih lengkapnya baca di web ini, pada rubrik Laporan Keuangan DKM)

Kurang apa lagi. Pada penghujung tahun 2011, tepatnya tanggal 11 Desember 2011, telah dilakukan peletakan batu pertama oleh Ketua DKM Azhar Yusuf. Tanda dimulainya pembangunan perluasan masjid menjadi dua lantai. Tapi kenapa soal sejarah masjid ini diabaikan begitu saja? Tak ada secuilpun catatan sejarah. Semua hanya berdasarkan cerita dari mulut ke mulut. Kalau hal seperti ini dibiarkan saja, bukan tidak mungkin, satu generasi lagi ke depan, akan melupakan sisi penting dari masjid ini, yakni sejarah berdirinya, misi yang diembannya, semangat ukhuwahnya dll.

Prihatin melihat kondisi ini, kami dari tim 5 yang membidangi Humas dan TI, merasa terpanggil untuk menelusuri kembali, merekonstruksi cuplikan-cuplikan peristiwa yang mengiringi pembangunan masjid al-Ikhlas.

Sudah hampir setahun ini, kami mencoba mengumpulkan catatan demi catatan dan pada hari Sabtu 27 April 2013, diprakarsai Jonathan Alkatiri yang akrab dipanggil pak Jo, Ketua bidang 5 DKM, kami mengundang para tokoh dibalik berdirinya masjid al-Ikhlas. Kami mengundang 7 orang tokoh. Mereka adalah H.M. Syamsuri, H. Hasnil HS. Basrie, Krisna Amir Hamzah, H. Munawar, H. Gatot Kusjono, HM Lukman dan M. Hidayat. Namun yang datang hanya dua orang, H.M. Syamsuri dan H. Gatot Kusjono. Dari cerita dua tokoh itu, tergambar dengan jelas bagaimana masjid mungil ini mulai dibangun. Menarik untuk disimak, karena perjalanan pembangunan masjid al-ikhlas ini diwarnai banyak tahapan. Disana ada konflik, ada tekat yang kuat untuk memperjuangkan sebidang lahan fasum, sebagai masjid.

“Proses pembangunannya juga tidak semudah membalikkan tangan”, kata pak Jo. Penuh onak dan duri. Butuh kegigihan dan mental baja menghadapi serangan dan terror yang luar biasa. Karena memperjuangkan tanah masjid itu, umat Islam Vila Dago Tol harus berhadapan langsung dengn pihak pengembang yang masih setengah hati menyerahkan tanah fasum (Fasilitas Umum) untuk bangunan masjid.

Menariknya, berdirinya Masjid Al-Ikhlas ini ternyata ada kaitannya dengan banjir besar yang menyapu Jakarta Februari 2002 lalu. Simak kisah lengkapnya disini

(Nur Fuad dan Team Bid. 5)

Comments are closed.

Advertise Here
Advertise Here